Kamis, 02 April 2020

Allah yang Menjaga Al-Quran

"Sungguh Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al Qur’an), dan Kami pula yang benar-benar akan menjaganya“. (QS. Al-Hijr: 9).

Sempat bertanya-tanya bagaimana mungkin Al-Quran dapat terjaga keasliannya lebih dari 14 abad yang lalu sejak ia diturunkan. Sebagai umat muslim sudah seharusnya kita mengimani hal tersebut, karena janji itu dinyatakan langsung oleh Allah.

Penjagaan Allah terhadap Al-Quran tidak hanya terbatas pada maknanya saja, per surat maupun per ayat, tetapi justru per hurufnya. Hal iti diungkapkan oleh para hafidzullah yang sangat intim interaksinya dengan Al-Quran. Selalu akan ditemukan jika terjafi kekeliruan yang terkandung di dalamnya.

Cara penjagaan Allah pun akan semakin kita yakini ketika kita membaca kisah sahabat Rasulullah, Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Berawal dari keinginan kuatnya bergabung diantara pasukan muslimin untuk menegakan panji islam namun dihadapkan penolakan yang halus dari Rasulullah karena usianya yang belum mumpuni.

Rasa sedih dan kecewa Zaid tidaklah mematahkan semangatnya menjadi pendukung Rasulullah, kemudian ia berpaling dari kesempatan tersebut dan mengambil posisi lain untuk berperan. Ia kemudian berusaha menghafal dan memaknai kandungan wahyu Allah yang hingga saat itu disampaikan Rasulullah kepada kaum muslimin.

Kecerdasan Zaid pun disambut oleh Rasulullah, sang ummi yang tidak mengenal huruf. Setelahnya Zaid selalu menjadi orang pertama yang diminta Rasulullah untuk menuliskan setiap wahyu yang baru sampai kepadanya. Tidak hanya itu, Zaid pun memiliki kemampuan untuk menerjemahkan ayat-ayat wahyu tersebut ke berbagai bahasa di antaranya adalah bahasa Ibrani yang digunakan kaum Yahudi. Posisinya pun bertambah menjadi "penerjemah Rasulullah" dalam hubungannya menyampaikan dakwah islam kepada raja-raja di masa itu.

Tentulah Zaid bin Tsabit ini adalah orang yang telah dipilih Allah sebagai salah satu penjaga Al-Quran. Maka hal ini adalah bukti nyata bahwa Allah benar-benar menjaga Al-Quran tanpa perlu diragukan lagi.

Selasa, 31 Maret 2020

Menggugah Para Orang Tua untuk Memahami Perannya


Semoga kita bukan orang tua yang mengambil perannya tanpa ilmu. Karena memang tidak ada sekolah formal untuk mengemban profesi sebagai orang tua. Padahal menjadi orang tua tidak hanya akan menhai hasilnya di dunia, tetapi juga bisa menjadi bekal yang sangat berat timbangannya untuk mendapatkan kemuliaan di hari akhir.

Sudah sering kita mendengarkan ungkapan bahwa setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi saleh, tapi sedikit sekali yang memahami bahwa kesalehan orang tua justru merupakan peran multidimensi yang dapat menjadi kebaikan bagi anak-anaknya. Harapan yang sederhana namun sangat majemuk dalam prakteknya.

Semua hasil akhir itu dimulai sejak kita mempersiapkannya. Yaitu sejak memantaskan diri untuk menjadi pemimpin bagi orang bertaqwa, memilih pasangan, mengikhtiarkan keturunan terbaik, ilmu mendidik dan segala pendukungnya. Yang tidak boleh dilupakan juga adalah mencari landasan tepat dan melibatkan sang penguasa semua makhluk di atas segalanya.

Buku di tangan saya ini dapat menjadi salah satu nutrisi bagi keilmuan kita yang sedang melakukan usaha terbaik menjadi orang tua. Meskipun judulnya baru "Sentuhan Parenting" semoga bisa menjadi bahan bakar yang membuat sebuah kendaraan mampu memutarkan rodanya.

Judul: Sentuhan Parenting 
Penulis: Budi Ashari, Lc 
Penerbit: Pustaka Nabawiyyah 
Jumlah Halaman: 241

Buku ini adalah kumpulan tulisan Ustadz Budi Ashari di web www.parentingnabawiyah.com yang sangat harus dimiliki bagi setiap keluarga. Supaya setiap kali semangat kita kendor atau lupa arah bisa kembali menjadi pengingat.

Terdiri dari tujuh pengelompokan tema yang sangat penting, yaitu:

1. Begin With the End
2. Setiap Anak Harus Lahir Kembar
3. Ayah, Ayat Allah di Bumi
4. Ibu, Pulanglah
5. Generasi Izzah, Bukan Imma'ah
6. Agar Nasehat Untuk Anak Bekerja Dahsyat
7. Terkadang, Keras itu Bukti Sayang

Semoga buku ini bisa jadi awal perubahan ke arah yang lebih baik di setiap rumah-rumah. Agar generasi gemilang tercipta karena kesadaran para pendidik utamanya, yaitu para orang tua.

Minggu, 29 Maret 2020

PEMILIK BARANG PUBLIK DI TENGAH PENDEMI

Jalan raya, udara terbuka, tanah, air hujan adalah barang publik. Ya, barang publik adalah segala hal yang sifatnya gratis dan dapat dinikmati oleh siapapun tanpa menghilangkan kesempatan orang lain untuk menikmati hal yang serupa. Hal tersebut tentu hanya berlaku di saat situasi dan kondisi normal. Tidak demikian ketika terjadi pendemi global, COVID-19 seperti saat ini. Menggunakan lahan terbuka harus bergiliran, yaitu saat tidak ada orang lain yang juga menggunakannya. Anjuran menghindari kerumunan membuat kita memiliki akses terbatas dalam menggunakan barang publik.



Situasi social distancing membuat siapapun diharuskan berdiam diri di rumah, untuk menghindari kontak langsung maupun tidak langsung dari orang yang bisa saja sudah terpapar oleh virus. Sekaligus sebagai upaya menempuh isolasi mandiri bagi setiap orang dalam masa inkubasi virus pada umumnya. Setidaknya itu yang disampaikan para penyuluh melalui berbagai media.

Sebagai orang yang memiliki keyakinan kepada Allah, tentu memahami bahwa segala yang terjadi baik itu kebaikan maupun keburukan adalah dalam kehendak-Nya. Menyelamatkan diri dari wabah bukan karena takut akan kematian, namun sebagai penyempurna ikhtiar.
Pun urusan menaati ulil amri juga merupakan sebuah keutamaan, meskipun itu membuat kita terbatas untuk beribadah jama'i.

Demikian pun terkait barang publik ataupun barang mewah kesemuanya adalah karunia dari Allah. Kondisi saat ini semakin membuat kita sadar bahwa hal-hal yang awalnya bebas dan gratis pun bisa menjadi mahal atas kehendak-Nya. Bukankah ini gambaran bahwa kita tidak memiliki apa-apa?

Berbaik sangkalah bahwa Allah sedang menyelamatkan kita dari fitnah lain yang merusak kita. Bukankah kita lebih sering lalai bahkan bermaksiat di atas karunia-Nya. Semakin sempit ruang gerak kita pun semakin menyadarkan bahwa hidupan kita hanya tentang menunggu waktu salat.

Rabu, 11 Maret 2020

BELAJAR DARI PARA TABI'IN

Kisah-kisah orang terdahulu selalu dapat kita ambil pelajarannya. Pepatah mengatakan bahwa sejarah akan terus berulang, untuk itu bukankah kita sebaiknya belajar dari sejarah. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapapun yang ingin mencari teladan yang tepat dalam hidupnya.
Judul: Percikan Hikmah dari Kisah Para Tabi'in
Pengarang: Gariq Gasim Anuz
Penerbit: Pustaka Imam Syafi'i
Jumlah Halaman: 172 halaman
Di tengah banyaknya idola-idola populer namun tidak berlandasan islam, sudah seharusnya kita mencari idola yang lebih tepat. Terlalu banyak kisah yang kita lewatkan jika hanya berpacu pada idola masa kini.

Jika akhlaq dan keimanan sahabat adalah yang sempurna karena didikan langsung sang Nabi, maka akhlaq dan keimanan para tabi'in merupakan sentuhan orang-orang pilihan yang pernah hidup di masa-masa wahyu sampai di setiap hari-hari mereka.

Buku ini cukup apik mengupas berbagai sisi tiga sosok tabi'in dengan penuh hikmah, layak sekali mengisi daftar bacaan di perpustakaan setiap rumah yang merindukan estafet keteladanan agung dari masa nubuwwah. Tiga sosok tabixin yang dimaksud adalah Salim bin Abdullah bin Umar bin Al-Khatab, Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib (Zainal Abidin), dan Ahnaf bin Qais.

Salim bin Abdullah adalah sosok yang sangat lurus keyakinannya kepada Allah, sampai-sampai ia tidak sempat berfokus dengan hal-hal duniawi yang tidak dimilikinya. Seorang khalifah di masanya pun tidak mampu mendapatkan hal yang diperlukannya untuk dipenuhi. Ia berkata bahwa dirinya malu mengatakan apa yang ia perlukan sedangkan selama ini Allah sudah mencukupi segala keperluannya. Sungguh kita mengambil hikmah kezuhudan yang luar biasa atas Salim. Serupa dengan akhlak kakeknya, Umar Al-Faruq, yang mencintai kehidupan sederhana dan menilai hina pakaian-pakaian yang terlampau mewah di hadapannya.

Dari Zainal Abidin, sang cucu Rasulullah, kita mendapatkan hikmah keteladanan sikap pemaaf dan membalas keburukan dengan kebaikan demi mengharap ridha Allah.


Senin, 09 Maret 2020

RESEP STIK BAWANG EMPUK

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman membuat cemilan sederhana untuk keluarga. Masih berbahan dasar terigu dengan harga yang terjangkau 😊

Snack ini biasa kita jumpai di kala lebaran, sangat digandrungi karena rasanya yang ringan. Sebut saja namanya stik bawang, meskipun ada banyak sebutan lainnya.

Berikut bahan-bahan yang perlu disiapkan:
500 gram terigu
3 sdm tepung tapioka
3 sendok mentega
3 sdt garam
1 tangkai bawang daun
1 gelas air

Langkah-langkah pembuatan:
1. Masukan terigu, tapioka, mentega, garam dan air ke dalam wadah.
2. Aduk hingga kalis.
3. Iris kecil daun bawang.
4. Masukan irisan daun bawang ke dalam adonan.
5. Aduk kembali adonan hingga rata seluruhnya.
6. Adonan siap untuk dibentuk.


7. Gunakan garpu untuk membuat motif sesuai ukuran yang diharapkan.

8. Goreng adonan yang sudah dibentuk dengan api sedang.
9. Tiriskan dan hidangkan.



Selasa, 18 Februari 2020

Cinta Nabi Sejak Dini

Judul: Muhammad Nabiku
Penulis: Aminah Ummu Tazkiya
Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi'i
Jumlah halaman: 147 halaman

Betapa bahagianya mendengar ucapan istimewa "aku cinta rasulullah" dari anak kita. Karena jika sudah tumbuh rasa cinta kepada rasulullah sejak dini, merupakan satu kunci bahwa ia pun akan senang menjalankan segala risalah yang disampaikannya. Karena iman itu akan tumbuh dengan adanya rasa cinta. Rasa cintalah yang membuat seseorang akan merindukan segala sesuatu. Rasa cintalah yang akan membuat seseorang melakukan apapun untuk hal yang dicintainya.

Rasa cinta memang akan tumbuh jika dipupuk dan disirami secara terus menerus. Pun demikian terkait kecintaan anak kita kepada rasulullah. Manusia yang mulia dan panutan utama umat islam tersebut sangat patut kita cintai, meskipun tanpa pernah kita menemuinya.

Membersamai ananda membacakan kisah rasulullah menjadi sangat berharga karena dilandasi tekad untuk menumbuhkan keimanan pada dirinya. Buku di tangan saya ini sangat membantu dan layak menjadi rekomendasi para orang tua yang juga ingin menumbuhkan kecintaan kepada rasulullah sjak dini.


Harga dari buku ini sangat terjangkau tetapi isinya sangatlah mahal. Setiap halaman disajikan penuh warna dengan gambar yang sangat menarik. Meskipun buku ini ditujukan untuk usia delapan tahun ke atas (8+), namun sangat ramah untuk dibaca usia berapapun. Si kakak yang belum genap empat tahun pun meminta dibacakan berulang kali, tidak ada bosan-bosannya.

Ceritanya dibuat berurutan sebanyak 56 chapter dari sebelum rasulullah lahir hingga ia meninggal. Dari keseluruhan fase kehidupan rasulullah, kisah-kisah istimewa dalam buku ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Periode Makkah: Akhlak dan Wahyu
  2. Periode Makkah: Dakwah dan hikmah
  3. Periode Madinah: Jihad dan Izzah

Pada bagian pertama dibagi kembali menjadi 10 chapter, mulai dari Masa Menanti Nabi Terakhir hingga Wahyu Pertama di Gua Hira. Sedangkan pada bagian kedua dibagi kembali menjadi 14 chapter, mulai dari masa Muhamad Sang Raul hingga Perjanjian Aqabah Kedua. Kemudian pada bagian terakhir dibagi menjadi 32 chapter, mulai dari masa Hijrah ke Kota Madinah hingga selesai.

Setiap kata yang disajikan dalam buku ini sarat hikmah dan berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Membaca dan memaknai perjalanan hidupnya dari awal hingga akhir membuat kita semakin merindukan masa-masa ketika ia hidup di antara kita. Membuat kita mengetahui bahwa perjalanan hidupnya tidak mudah dan penuh perjuangan.

Semoga ikhtiar kita menyampaikan cerita perjalanan hidup rasulullah terwakilkan dengan hadirnya buku ini. Di akhir buku ini ada beberapa konten edukatif yang dapat digunakan orang tua supaya lebih interaktif bersama ananda. Dan yang terpenting semoga kita semakin semangat untuk belajar mempelajari lebih lanjut kisah-kisahnya yang masih banyak dan belum tertuang di buku ini.

Kamis, 13 Februari 2020

Guru, Awal dari Lahirnya Peradaban


Buku ini berhasil memberikan tambahan motivasi bagi saya untuk bervisi jauh dalam mendidik keluarga. Karena menjadi guru bagi anak-anak kita tidak hanya sekedar membuatnya pandai berbicara dan menghafal nama-nama benda di sekitarnya.
Judul: Kiat Menjadi Guru Keluarga
Penulis: Dr. Afian Husaini 
Penerbit: Pustaka Arafah 
Jumlah Halaman: 100 halaman
Bung Hatta pernah menyatakan bahwa mendidik satu laki-laki sama dengan mendidik satu manusia sedangkan mendidik perempuan sama dengan mendidik satu generasi. Hal ini akan senada jika kita mendidik wanita yang dapat menjadi guru bagi keluarganya.

Dalam buku ini lebih luas dipaparkan bahwa sebuah bangsa akan maju jika ada guru yang siap berkorban di dalamnya. Dan apa jadinya jika guru-guru seperti yang dimaksud tersebut hadir disetiap rumah? Bukankah menjadi mungkin dengannya akan terlahir generasi baru sekualitas 'Salahudin Al-Ayyubi'.

Karena di balik penaklukan Al-Aqsa dari pasukan Salib bukan semata-mata karena peran seorang Salahudin Al-Ayyubi. Ada sosok yang sudah berhasil mendidik generasi pejuang dibelakangnya, yaitu peran seorang Imam Ghazali dalam merubah pemikiran, akhlak, dan diri manusia pada generasi saat itu.

Dari pengaman Dr. Afian Husaini yang lama berada di dunia pendidikan, ia menyebutkan ada enam materi pokok yang penting menjadi bekal orang tua untuk menjadi pendidik keluarga, yaitu:
1. Islamic Worldview
2. Pendidikan Anak
3. Fiqhud Dakwah
4. Fiqih Keluarga
5. Tantangan Pemikiran Kontrmporer
6. Sejarah Peradaban Islam

Mendidik generasi pejuang dari rumah menjadi lebih urgen diterapkan. Karena dunia pendidikan dewasa ini lebih cenderung memisahkan urusan agama dari kehidupan. Padahal agama adalah pokok dari pembentukan akhlak. Sistem pendidikan saat ini lebih memusatkan tujuan akhirnya untuk menghasilkan pekerja, bukan mengarusutamakan pembentukan manusia terbaik.